18+ · Konten dewasa · Hanya untuk pembaca dewasa
CERITATupai
CeritaCariTentang
← Semua cerita
ForbiddenFree preview · 50%

Gemuruh Gelap di Lantai Tujuh

Noir Vale16 Juli 2026Forbidden

Persaingan sengit antara dua rekan kerja berubah menjadi gairah yang meledak saat listrik kantor padam. Di balik meja rapat, dendam profesional meleleh menjadi hasrat yang tidak tertahankan.

Kantor sudah sepi, menyisakan hening yang mencekam di lantai tujuh. Sharon, dengan rambut blondenya yang kontras dengan garis wajah oriental yang tegas, masih terpaku pada layar monitor. Blus satin tipis yang ia kenakan tersingkap sedikit, mengekspos sebagian perutnya yang rata dan mulus setiap kali ia bersandar. Di seberang mejanya, Bryan memperhatikannya dengan tatapan yang bukan sekadar urusan pekerjaan. Ada api yang sudah lama mereka padamkan demi etika profesi, namun selalu menyala kembali setiap kali mereka berdebat soal strategi klien. "Kau masih belum selesai, Sharon?" suara Bryan berat, menggema di ruangan yang remang.
Sharon berbalik, menatap pria itu dengan tatapan menantang. "Siapa yang mau mengalah kalau kau terus mencoba menyabotase laporanku?" Bryan bangkit, berjalan mendekat. Jarak mereka kini hanya beberapa inci. Aroma parfum maskulin yang kuat menyeruak, mencampur dengan bau kopi dingin. Bryan tidak menjawab, ia hanya menatap leher putih Sharon yang berkeringat tipis, lalu turun ke belahan dadanya yang terekspos dalam di balik blus satinnya. Payudara besar Sharon naik turun dengan teratur, menunjukkan kegelisahan yang sama besarnya dengan gairah yang ia rasakan. Tiba-tiba, lampu padam. Kegelapan total menelan ruangan, menyisakan bayangan gedung-gedung Jakarta di balik jendela kaca. Pertengkaran mereka terhenti seketika. Dalam kegelapan itu, detak jantung Sharon terasa begitu keras, dan ia bisa merasakan napas Bryan yang hangat menerpa wajahnya.
"Kau tidak takut gelap, kan?" bisik Bryan. Tangannya yang kasar kini mendarat di pinggang Sharon, menariknya mendekat. Sharon mendesah, tangannya secara alami mencari pegangan dan menemukan dada bidang Bryan. "Jangan mencoba memanipulasi situasi ini, Bryan," gumamnya, namun ia justru semakin merapat, membiarkan payudaranya yang penuh menekan dada pria itu. Jari-jari Bryan mulai menjelajah, turun dari pinggang ke arah pantat Sharon yang padat, meremasnya dengan posesif. Sharon memejamkan mata, merasakan panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia mendorong Bryan ke arah meja rapat besar di tengah ruangan, mendorongnya hingga pria itu terduduk. Tanpa ragu, Sharon naik ke pangkuannya, membiarkan rok mini kantornya tersingkap hingga memperlihatkan paha dan betisnya yang jenjang dan halus.
Dengan gerakan putus asa, Bryan membuka kancing blus Sharon satu per satu. Kain satin itu tergelincir jatuh, memperlihatkan payudara besar yang hanya terbalut bra tipis transparan. Putingnya yang menegang menekan kain, menuntut untuk dibebaskan. Sharon mampu merasakan mata Bryan terpaku pada lekukan tubuhnya.
Locked · Free preview ends here

Unlock the rest of the story

Kamu sudah membaca separuh Gemuruh Gelap di Lantai Tujuh. Daftar gratis untuk membuka seluruh cerita, klimaks, dan ilustrasi lengkap.

  • ✓ Full chapter access
  • ✓ All scene illustrations
  • ✓ Free · 18+ only