← Semua cerita



Urban HeatFree preview · 50%
Manisnya Gula Terlarang
Kai Redwood25 Juli 2026Urban Heat

Berawal dari kunjungan singkat untuk meminjam gula, ketegangan antara tetangga baru ini berubah menjadi pertemuan malam yang panas. Anya tidak pernah menyangka bahwa kulkas kosongnya akan menjadi alasan untuk menghabiskan malam di pelukan Julian.
Udara malam itu terasa pengap, khas Jakarta setelah hujan yang tak kunjung reda. Anya berdiri di depan pintu apartemen 402 dengan napas yang masih terengah, menggenggam kertas catatan resep di tangannya. Ia baru saja menyadari bahwa stok gulanya habis, dan membuat kue lemon adalah misi utamanya malam ini. Dengan ragu, ia mengetuk pintu kayu berwarna gelap itu.
Julian membuka pintu hanya dalam hitungan detik. Ia tampak baru saja selesai mandi; rambutnya masih basah dan hanya mengenakan celana kain tipis tanpa atasan. Anya terpaku sejenak, matanya tak sengaja menyapu dada bidang yang kokoh dengan bulu-bulu halus di bagian tengahnya, menurun ke arah garis pinggang yang terekspos.
"Butuh sesuatu, Anya?" suara Julian rendah dan serak, mengirimkan getaran aneh ke tulang belakang Anya.
"I-Iya, maaf mengganggu," Anya berdeham, mencoba mengalihkan perhatian dari otot perut Julian yang tampak keras. "Boleh aku pinjam gula? Aku baru sadar stokku habis."
Julian tersenyum tipis, senyum yang terasa nakal sekaligus mengundang. "Masuklah. Letakkan resepmu itu, aku akan mengambilkannya."
Anya melangkah masuk ke dalam apartemen yang beraroma maskulin, campuran antara kayu cendana dan sisa uap mandi. Saat Julian beralih ke dapur, Anya berdiri canggung, mencoba tidak terlalu memperhatikan bagaimana celana Julian terasa terlalu ketat di bagian paha.
"Ini gulanya," Julian kembali, namun ia tidak memberikan toples itu. Ia berdiri begitu dekat sehingga Anya bisa merasakan panas tubuh pria itu.
Anya mendongak, matanya bertemu dengan tatapan gelap Julian yang lapar. "Terima kasih," bisiknya. Namun, saat ia mencoba mengambil toples itu, Julian tidak melepaskannya. Jemari mereka bersentuhan, dan sengaja dibiarkan lama.
Ketegangan yang selama ini terpendam sejak hari pertama mereka berkenalan meledak begitu saja. Julian menarik Anya mendekat, tangannya mendarat di pinggang ramping Anya, menariknya hingga payudara besar Anya tertekan lembut pada dadanya yang keras. Anya bisa merasakan detak jantung Julian yang liar, seirama dengan degup jantungnya sendiri.
"Kau sangat cantik malam ini," Julian berbisik tepat di telinganya, napasnya yang panas membuat bulu kuduk Anya meremang. "Dan aku sudah lama ingin melakukan ini."
Julian mulai menciumi leher Anya, menghirup aroma parfumnya yang manis. Tangan Julian mulai menjelajah, turun dari pinggang ke arah pinggul, memberikan remasan lembut pada pantat Anya yang terbalut rok mini. Anya mengeluarkan rintihan kecil, "uuuhhh," saat bibir Julian menemukan titik sensitif di belakang telinganya.

Tangan Anya naik, mencengkeram bahu lebar Julian, menariknya lebih dekat. Julian tidak membuang waktu; ia mengangkat Anya ke atas meja dapur, membuat kaki jenjang Anya terbuka lebar, memperlihatkan betis putih yang licin hingga ke paha atas. Anya bisa merasakan dinginnya permukaan meja namun panasan oleh sentuhan jari-jari Julian yang mulai menyelinap masuk ke balik pakaiannya.
"Kau yakin?" Julian bertanya dengan nada penuh konsen, meskipun matanya tidak lepas dari belahan payudara Anya yang menyembul dari balik blouse tipisnya.
"Yaaa... tolong, Julian," Anya merintih.
Julian mulai melepas kancing blus Anya satu per satu, memperlihatkan bra renda hitam yang menopang payudara besarnya. Julian tidak menunggu lama untuk meluncurkan tangannya ke bawah, meraba lekukan payudara Anya yang kenyal, lalu dengan perlahan memijat putingnya yang mengeras.
"Ooohh, aaaahhh," Anya mendongak, membiarkan kepalanya bersandar pada lemari gantung di atas mereka. "Julian, hhnnn, di situ..."
Julian menggeram rendah, "Sangat menggoda, Anya. Sangat panas."
Julian menarik bra Anya, membiarkan payudara besarnya terbebas dan menghadapnya. Ia menunduk, menjiluki puncak puting merah muda itu dengan lidahnya, sementara tangannya yang lain merambat turun, masuk ke balik rok mini Anya, mencari liang yang mulai basah.

"Ya, di sana... ohhh, Julian!" Anya menjerit pelan saat jari-jari Julian menemukan pusat sensitifnya. "S-sodok sayaaang... ahh, t-teratur, yessss..."
Julian mempercepat gerakannya, jemarinya menari lincah di antara lipatan daging yang lembut dan lembap, membuat Anya melengkungkan punggungnya, mendesak tubuhnya lebih kuat pada Julian.

Locked · Free preview ends here
Unlock the rest of the story
Kamu sudah membaca separuh “Manisnya Gula Terlarang”. Daftar gratis untuk membuka seluruh cerita, klimaks, dan ilustrasi lengkap.
- ✓ Full chapter access
- ✓ All scene illustrations
- ✓ Free · 18+ only