18+ · Konten dewasa · Hanya untuk pembaca dewasa
CERITATupai
CeritaCariTentang
← Semua cerita
Dark FantasyFree preview · 50%

Darah dan Sutra: Perjamuan Sang Pemangsa

Seraphine Night25 Juli 2026Dark Fantasy

Lyra, seorang pemburu monster, terjebak dalam permainan kucing-tikus dengan Valerius, entitas kuno yang menggiurkan. Obsesi yang awalnya berdarah berubah menjadi gairah fisik yang tak terelakkan.

Hujan abadi mengguyur kota terlarang Oakhaven, membawa aroma besi dan tanah basah. Lyra melangkah hati-hati memasuki kastel yang runtuh, ujung pedang peraknya bersinar redup di bawah cahaya bulan yang tertelusi awan. Dia mencari Valerius, sang kolektor nyawa yang telah menghantui mimpi buruk para penduduk desa selama satu dekade. Namun, ketika dia menemukan sang iblis di ruang perpustakaan yang remang, Lyra menyadari bahwa senjata terbaiknya bukanlah baja, melainkan keinginan yang selama ini ia tekan.
Valerius berdiri di dekat jendela besar, memunggungi Lyra. Dia mengenakan kemeja sutra hitam yang kancing atasnya terbuka, memperlihatkan garis rahang yang tegas dan kulit pucat yang tampak dingin. Saat Valerius berbalik, Lyra merasakan napasnya tercekat. Tidak ada monster di sana—hanya seorang pria dengan mata berwarna merah darah yang menatapnya lapar. "Kau datang untuk membunuhku, Pemburu?" suara Valerius berat, bergetar seperti guntur yang jauh. Lyra tidak menjawab. Dia mencoba mengunci target, namun tangannya gemetar. Objek yang seharusnya menjadi target buruannya justru menariknya masuk ke dalam pusaran gravitasi yang tak kasat mata. Saat Valerius mendekat, aroma kayu cendana dan musk menyerbu indra penciumannya. Jarak di antara mereka mengikis, hingga Lyra bisa merasakan hembusan napas panas Valerius di keningnya. "Aku tidak takut," bisik Lyra, meski jantungnya berdegup kencang hingga terasa di pangkal tenggorokan. Valerius tersenyum tipis, jemarinya yang panjang dan dingin menyentuh rahang Lyra, mengangkat wajah wanita itu agar menatapnya. "Ketakutan adalah bumbu terbaik dari gairah," bisiknya. Tiba-tiba, Valerius menarik pedang dari tangan Lyra dengan gerak cepat yang hampir mustahil dilihat mata manusia, membiarkan senjata itu terhempas ke lantai marmer dengan dentang keras.
Ketegangan di ruangan itu berubah seketika. Tanpa senjata, Lyra merasa terpojok, namun sensasi aneh mengalir di sumsum tulangnya. Valerius melangkah maju, mendorongnya lembut hingga punggung Lyra membentur meja kayu ek yang berat. "Kau sangat cantik saat terintimidasi," Valerius berbisik tepat di telinganya. Tangannya bergerak naik, menelusuri lekuk pinggang Lyra yang terbalut kulit ketat, lalu naik perlahan ke arah payudara besarnya yang naik turun terengah. Kemeja sutra Valerius kini bergesekan dengan pakaian Lyra, menciptakan panas yang membakar. Lyra mendesah pelan saat Valerius mulai membuka kancing bajunya sendiri, satu per satu. Mata Lyra tak bisa lepas dari chest muscles yang kokoh dan definisi perut yang terpahat sempurna di balik sisa pakaiannya. Valerius kemudian meraih tali bra Lyra, memintanya secara non-verbal melalui tatapan matanya yang intens. Lyra mengangguk kecil, memberinya izin. Dengan gerakan artistik, Valerius menarik tali itu, membiarkan kain sutra putih Lyra merosot, menyingkap belahan payudara yang dalam dan puting yang mengeras karena udara dingin ruangan. Lyra merinding, bukan karena takut, tetapi karena antisipasi. Valerius tidak terburu-buru; dia memuja setiap jengkal kulit yang terekspos dengan tatapannya sebelum jemarinya mulai menjelajah.
Desahan pertama lolos dari bibir Lyra ketika Valerius mengulum telinganya, tangannya merayap turun ke arah paha yang tersembunyi di balik rok pendeknya. "Uuuuhhh," rintih Lyra, memejamkan mata saat jemari Valerius menyentuh pangkal paha dalamnya, menarik kain roknya ke atas sampai betis dan paha putihnya terekspos sepenuhnya. Valerius mengangkat Lyra ke atas meja, membiarkan kakinya melingkari pinggang pria itu. Wajah mereka bertemu, ciuman yang awalnya penuh tuntutan berubah menjadi eksplorasi yang rakus. Lyra merasakan lidah Valerius menyapu bibirnya, sementara tangannya menarik rambut hitam Valerius, memandu kepala pria itu turun ke arah payudaranya. "Aahhh, ya..." Lyra mengerang saat merasakan mulut hangat Valerius mengulum putingnya yang mengeras, menghisapnya dengan ritme yang memabukkan. "Sodokuuu," bisik Lyra parau, tangannya kini masuk ke dalam celana Valerius, mencari inti dari kejantanannya. Dia merasakan kekerasan yang menuntut di sana, denyutan yang sinkron dengan nafasnya sendiri. "Satu langkah lagi, Lyra," Valerius berbisik rendah, "dan kau tidak akan bisa kembali menjadi pemburu." Lyra tidak peduli. Dia menarik Valerius lebih rapat, membiarkan pakaian mereka saling mengunci, menciptakan gesekan panas yang membuat mereka berdua gemetar. Saat Valerius mengangkat bokongnya dan memosisikan dirinya di antara kedua pahanya, Lyra bisa merasakan panas yang memancar dari liangnya yang mulai lembap. Dia membukanya lebar-lebar, mengundang sang monster masuk ke dalam wilayah paling pribadinya, siap untuk ronde pertama yang akan menghancurkan seluruh dinding pertahanannya. * * * Dengan satu dorongan kuat, Valerius memposisikan dirinya di antara paha Lyra, mengunci pinggul wanita itu dengan tangannya yang besar sementara sutra biru rok Lyra tersingkap, terangkis ke atas hingga memperlihatkan kulit putih mulus dari paha bagian dalamnya. Lyra mendesah, kepalanya terlempar ke belakang saat Valerius membenamkan wajahnya di ceruk lehernya, menghisap kulit sensitif di sana hingga meninggalkan tanda kemerahan.
Locked · Free preview ends here

Unlock the rest of the story

Kamu sudah membaca separuh Darah dan Sutra: Perjamuan Sang Pemangsa. Daftar gratis untuk membuka seluruh cerita, klimaks, dan ilustrasi lengkap.

  • ✓ Full chapter access
  • ✓ All scene illustrations
  • ✓ Free · 18+ only