18+ · Konten dewasa · Hanya untuk pembaca dewasa
CERITATupai
CeritaCariTentang
← Semua cerita
Romance PanasFree preview · 50%

Hujan di Lantai Atas

Luna Ember15 Juli 2026Romance Panas

Sebuah pertemuan tak terduga di tengah badai mempertemukan dua jiwa yang terluka. Di loteng emping yang temaram, mereka belajar bahwa keintiman bukanlah tentang kesempurnaan, melainkan tentang keberanian untuk saling membuka luka, dan membiarkan sentuhan menjadi bahasa yang paling jujur.

Hujan turun tanpa ampun di atas kota. Di lantai dua sebuah kafe kecil yang nyaris sepi, denting air di atap seng menjadi satu-satunya orkestra malam itu. Aku, Lara, duduk di sudut paling gelap, buku catatan terbuka namun kosong di depanku. Tiga tahun sudah sejak perceraian, dan malam-malam seperti ini masih terasa seperti ruang hampa yang berat. Lalu dia datang. Dia—seorang pria dengan rambut basah menempel di dahi, kemeja putihnya yang tipis menjadi tembus pandang oleh air hujan. Dia mengguncang tubuhnya seperti anjing labrador, lalu matanya menangkapku. Senyum malu-malu, sedikit konyol. "Maaf, kursi lain basah semua," katanya, suaranya dalam, sedikit serak. "Boleh saya duduk di sini?" Aku hanya mengangguk, pura-pura kembali menatap buku catatan. Tapi aroma hujan dan sesuatu yang lebih hangat—mungkin kayu cendana atau kulit bersih—telah memenuhi ruang di antaraku dan dia. Namanya Bima. Arsitek. Katanya, dia sedang melarikan diri dari sebuah pesta pernikahan teman. "Aku benci bagian ketika semua orang berharap kamu bahagia, padahal di dalam hatimu ada reruntuhan," katanya sambil memutar gelas kopi. Matanya gelap, seperti dasar laut yang menyimpan rahasia. Aku tidak tahu mengapa, tapi kata-kata itu menusuk. Aku punya reruntuhan sendiri. "Dan kau?" tanyanya, menatapku langsung. "Apa yang kau lari dari?" Hujan semakin deras. Lampu-lampu kota di luar berubah menjadi kabut kuning. Entah dorongan apa, tapi aku mulai bicara. Tentang pernikahan yang mati perlahan, tentang kamar kosong, tentang malam-malam ketika kau merasa sendirian meskipun ada orang di sampingmu. Dia mendengarkan. Benar-benar mendengarkan. Bukan dengan sopan santun palsu, tapi dengan tatapan yang membuatku merasa dilihat—bukan sebagai seorang yang hancur, tapi sebagai seseorang yang masih utuh. "Kau tahu," katanya tiba-tiba, "dulu aku percaya bahwa cinta harus sempurna. Seperti iklan parfum. Tapi sekarang aku pikir..." Dia berhenti. "Mungkin cinta hanyalah dua orang yang memilih untuk tidak pergi ketika badai datang." Aku menelan ludah. Jantungku berdegup di tempat yang aneh—di ujung jari, di dasar perut. Kafe akan tutup. Petugas kasir sudah melirik jam tangannya. Hujan belum reda. "Aku punya tempat di lantai atas," kataku, tanpa berpikir. "Ada loteng. Atapnya kaca. Kita bisa lihat hujan dari atas." Di matanya, ada tanya. Tapi juga ada jawaban. Loteng itu kecil, berantakan dengan buku dan bantal-bantal yang berserakan. Tapi di atas sana, hujan menari di kaca, dan dunia terasa jauh. Aku menyalakan lilin-lilin kecil yang mulai meleleh di pinggir meja. Cahayanya temaram, membuat bayangan kami panjang di dinding. Kami duduk berhadapan. Aku menuang anggur merah yang sudah setengah botol. Tidak ada yang bicara. Tapi ada listrik di antara kami, sesuatu yang membuat udara terasa tebal dan tipis pada saat bersamaan. Dia meraih tanganku. Bukan dengan rakus, tapi seperti orang yang memegang sesuatu yang rapuh dan berharga. Ibu jarinya mengusap punggung tanganku, dan aku merasa seperti kabel yang tersambung. Setiap sentuhan kecil—garis-garis di telapak tangan, lekukan pergelangan—terasa seperti percakapan diam.
Locked · Free preview ends here

Unlock the rest of the story

Kamu sudah membaca separuh Hujan di Lantai Atas. Daftar gratis untuk membuka seluruh cerita, klimaks, dan ilustrasi lengkap.

  • ✓ Full chapter access
  • ✓ All scene illustrations
  • ✓ Free · 18+ only